Mataram, Rabu (21/1/2026) —
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat memastikan ketersediaan stok serta stabilitas harga komoditas bahan pokok dan penting menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Kepastian tersebut diperoleh melalui inspeksi mendadak (sidak) yang dipimpin Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi NTB, L. Moh. Faozal, bersama Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTB, Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB, Pimpinan Wilayah BULOG NTB, serta OPD terkait.
Sidak dilakukan di Gudang BULOG Dasan Cermen dan Distributor Telur Ayam Ras di Bertais, Kota Mataram, guna memastikan keamanan stok dan kelancaran distribusi pangan strategis.
Pimpinan Wilayah BULOG NTB melaporkan bahwa stok beras medium (SPHP) saat ini mencapai sekitar 145 ribu ton dan berada dalam kondisi sangat aman. Penyerapan gabah petani dilakukan secara intensif sesuai arahan pemerintah pusat, bahkan hingga memerlukan penambahan gudang untuk menampung stok hasil serapan. Sementara itu, stok gula dipastikan aman dan distribusi Minyakita dijadwalkan masuk dalam minggu ini melalui sinergi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Plh. Sekretaris Daerah Provinsi NTB menegaskan bahwa cadangan beras NTB diproyeksikan aman hingga 10 bulan ke depan. Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga, mengingat NTB merupakan salah satu daerah sentra produksi pangan nasional. Terkait komoditas telur, Pemerintah Provinsi NTB mendorong penguatan kemandirian melalui program kemitraan peternak dan produksi pakan mandiri, serta membuka peluang pemberian stimulus kepada investor.
Kepala BPS NTB menyampaikan bahwa berdasarkan tren tiga tahun terakhir, menjelang Ramadhan dan Idul Fitri umumnya terjadi gejolak harga pada komoditas beras, telur, terigu, gula, serta hortikultura. Untuk itu, diperlukan langkah antisipatif, khususnya dalam mengamankan pasokan cabai rawit, tomat, dan sayuran lainnya, serta optimalisasi cadangan beras pemerintah melalui SPHP.
Dalam diskusi, perwakilan Bank Indonesia NTB menyoroti perlunya kajian rencana ekspor beras mengingat kondisi surplus gabah saat ini, guna menghindari risiko kerusakan stok akibat penyimpanan jangka panjang. Penyaluran beras diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah, kemudian antar daerah seperti NTT, Bali, hingga Timor Leste, dan ke depan diarahkan ke wilayah Jawa dan Sumatera. Bank Indonesia juga diharapkan dapat mendukung sarana prasarana pascapanen, seperti Rice Milling Unit (RMU), bagi pelaku usaha penggilingan sesuai kapasitasnya.
Sidak dilanjutkan ke Gudang Distributor Telur PT Baling-Baling Bambu di Bertais. Pihak distributor menjelaskan bahwa produksi telur harian mencapai sekitar 30 ribu butir, dengan masa simpan hingga tiga hari. Meskipun peternak telah difasilitasi SPHP jagung, fluktuasi harga pakan masih menjadi tantangan utama. Namun demikian, ketersediaan telur menjelang Ramadhan dan Idul Fitri dipastikan dalam kondisi aman.
Tim juga meninjau gudang ayam di lokasi yang sama. Harga ayam hidup tercatat sekitar Rp33.000 per kilogram, dengan kapasitas distribusi harian 300–500 ekor. Menjelang Idul Fitri, stok ayam beku dipastikan aman dengan cadangan mencapai 60 ton. Tantangan yang dihadapi antara lain kenaikan harga pakan, pembatasan DOC, serta keterbatasan fasilitas penyimpanan di sepanjang rantai pasok.
Sebagai tindak lanjut, Plh. Sekretaris Daerah Provinsi NTB mengarahkan agar distributor pangan strategis diundang secara langsung untuk memberikan masukan terkait rantai pasok dan market intelligence, guna memperkuat koordinasi dan menjaga stabilitas pasokan serta harga komoditas strategis menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah.