Mataram, Rabu (4/2/2026) – Analis Kebijakan Ahli Madya pada Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTB, Nana Oktutiana, S.IP., ME bersama Tim Ekonomi Makro melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) harga dan ketersediaan pangan strategis di Pasar Mandalika serta Distributor Telur Ayam Ras CV Sinta Suka Makmur (SSM) Kota Mataram.
Hasil sidak menunjukkan adanya kenaikan harga pada beberapa komoditas utama, khususnya cabai rawit dan daging ayam ras, serta keterbatasan stok pada komoditas tertentu di tingkat pedagang.
Harga daging sapi terpantau relatif stabil pada kisaran Rp125.000–Rp135.000 per kg. Cabai rawit mengalami kenaikan signifikan menjadi Rp100.000 per kg dari sebelumnya Rp80.000 per kg dalam dua hari terakhir, sementara cabai merah tercatat Rp40.000 per kg. Harga tomat masih normal di Rp10.000 per kg, bawang merah Rp35.000 per kg, dan bawang putih Rp32.000 per kg.
Untuk komoditas beras, harga beras medium tercatat Rp70.000 per 5 kg dan beras premium Rp75.000 per 5 kg. Namun demikian, stok beras SPHP belum tersedia di pasar dalam beberapa hari terakhir.
Harga daging ayam ras naik menjadi Rp43.000 per kg dari sebelumnya Rp38.000 per kg, disertai pembatasan penjualan maksimal 100 kg per hari. Telur ayam ras dijual pada kisaran Rp53.000–Rp62.000 per tray tergantung ukuran. Di sejumlah lapak, stok telur ayam ras dan Minyakita terpantau terbatas bahkan kosong. Minyakita dijual Rp20.000 per liter dengan ketersediaan terbatas. Sementara itu, ikan tongkol dijual Rp25.000 per bakul (isi 3–4 ekor).
Untuk komoditas non-pangan, harga emas perhiasan 22 karat tercatat Rp2.600.000 per gram (di luar ongkos), dengan harga beli kembali Rp2.200.000–Rp2.400.000 per gram, sedangkan emas Antam dijual Rp2.900.000 per gram, mencerminkan pengaruh dinamika harga global.
Sidak dilanjutkan ke CV Sinta Suka Makmur (SSM) Mataram, yang menunjukkan kapasitas produksi telur ayam ras mencapai 35.000–40.000 butir per hari. Harga telur di tingkat produsen mengalami kenaikan terbatas dan stok secara umum masih aman, termasuk untuk memenuhi kebutuhan SPPG. Produksi sebelumnya sempat menurun akibat penyakit ayam, namun saat ini telah berangsur pulih. Distribusi difokuskan untuk pasar lokal Pulau Lombok, dengan penyaluran ke ritel modern seperti Alfamart, Indomaret, Lotte, dan JB Mart apabila terjadi kelebihan stok.
Kesimpulan, tekanan harga pangan saat ini masih bersifat terbatas dan terkendali. Namun demikian, diperlukan perhatian khusus terhadap kenaikan harga cabai rawit dan daging ayam ras, serta ketersediaan beras SPHP, Minyakita, dan telur ayam ras di pasar. Ke depan, diperlukan penguatan koordinasi pengendalian pasokan serta dukungan stabilisasi harga pakan ternak, khususnya jagung, guna menjaga daya saing harga telur lokal dan stabilitas harga pangan di Provinsi NTB.