Sosialisasi Perdagangan Cukai Rokok Ilegal

Selasa, 2 November 2021 Bagian Kebijakan Perekonomian Setda Provinsi NTB mengadakan acara Sosialisasi Perdagangan Cukai Rokok Ilegal yang bertempat di ballroom hotel Aston, acara di buka oleh bapak Assisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan serta dihadiri oleh Kepala Kantor Bea Cukai Kota Mataram sebagai narasumber. Acara sosialisasi ini mengundang perwakilan OPD, APKLI dan pedagang kaki lima sebagai peserta. Biro Perekonomian Setda NTB menggandeng Bea Cukai Mataram mengajak masyarakat khususnya dari kalangan pedagang untuk memberantas peredaran rokok illegal.Kegiatan ini sekaligus ajang diskusi dan edukasi pada para pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Kaki Lima (Apkli) Kota Mataram. Agar lebih paham terkait cukai, pita cukai, identifikasi rokok illegal, berikut regulasi penyertanya hingga sanksi bagi para pelanggar.Dengannya alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) dapat dikelola optimal. Demi membantu mengoptimalkan penerimaan negara, mencegah dan mengurangi beredarnya rokok illegal, meningkatkan kesadaran masyarakat dan produsen rokok terhadap penggunaan cukai illegal, hingga membantu para petani tembakau dengan menjaga stabilitas harga. Kepala Kantor Bea Cukai Mataram, I Putu Alit Ari Sudarsono mengatakan, pedagang berperan penting sebab mereka pihak terdekat dengan konsumen maupun supplier. Sehingga pedagang wajib mengetahui ciri rokok illegal dalam perannya ikut memberantas rokok illegal. Diantaranya warna pita cukai yang tampak berbeda dengan yang asli. Penggunaan pita cukai tak sesuai dengan nama perusahaan atau berbeda jenis produk. Terdapat bekas sobek, berkerut atau kusut dan tak ada pita cukai yang ditempel pada kemasan produk. Cukai diterima negara sebagai APBN tahun 2020 yang berkontribusi sebesar Rp 170 triliun. NTB sendiri merupakan penerima DBH-CT keempat terbesar se-Indonesia dengan penyaluran sebesar Rp 318 miliar. Tujuan dipungutnya cukai untuk membatasi, mengawasi, mengendalikan produksi, peredaran dan konsumsi barang yang tak baik bagi kesehatan maupun lingkungan. #biroperekonomianNTB#NTBGemilang#NTBTangguhDanMantap+5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *