Pengembangan Food Estate Labangka

Gubernur NTB DR.H. Zulkieflimansyah, menyatakan kesiapan NTB untuk mengembangkan Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming) di Labangka. hal ini kemudian disambut Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian yang juga akan menyiapkan berbagai kebutuhan untuk mendukung Sistem Pertanian Terpadu Labangka menjadi Food Estate (Lumbung Pangan) NTB.

NTB akan menjadi satu dari empat provinsi di Indonesia yang akan dikembangkan menjadi food estate untuk menjaga ketersediaan kebutuhan dan pasokan pangan lokal maupun nasional. Food Estate sendiri merupakan konsep penegembangan pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan, dan peternakan dalam satu kawasan terpadu. Selain menjadi food estate, Labangka Integrated Farming juga akan menjadi tujuan desa wisata dan dalam perencanaannya akan menerapkan pengolahan sampah menjadi energi (waste energy).

Hal ini disampaikan Gubernur saat mengikuti rapat koordinasi melalui video konferensi dengan para pejabat eselon I dan II Kementerian Pertanian sabtu 3 Oktober di pendopo Gubernur NTB.

Provinsi NTB sangat berterimakasih karena didukung penuh utnuk membangun sistem pertanian terpadu untuk mendukung food estate di NTB bahkan di Indonesia, di bulan Oktober ini segalanya akan disiapkan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Dr. Ir. Momon Rusmono, mengapresiasi kesiapan Pemprov NTB dalam perencanaan pengembangan kawasan pertanian terpadu di Labangka.

Dijelaskan pula pengembangan food estate ini dilakukan dengan sinergi antara kementerian/lembaga dengan pemerintah daerah. Bahkan kebermafaatannya akan dirasakan oleh masyarakat.

Sinergi antara berbagai pihak tersebut mulai dari hulu, hilir hingga distribusi pasar. Tak hanya itu, ada pula upaya pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan korporasi petani, peningkatan kapasitas dan diversifikasi produksi pangan, serta penataan kawasan dan pengembangan sarana dan prasarana pertanian.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Distanbun NTB, Husnul Fauzi yang ikut mendampingi Gubernur, menjelaskan dengan lahan lebih dari 10,000 Ha, direncanakan lahan akan siap untuk ditanam tanaman produktif seperti Padi Gogo, Hortikultura, Perkebunan dan Peternakan serta Perikanan. untuk itu, dukungan dari Kemenpen sangat diharapkan seperti sarpras untuk budidaya membutuhkan perpipaan, perpompaan, embung, drip irigation. sedangkan untuk pengolahan hasil membutuhkan MRMU, dryer, SILLO, Solar Dryer, Mesin penggiling cabe, alat pembuat keripik, oven, pemeras santan, pengupas kelapa, alat kemas, kacip mete dll.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *